istri tercinta ku

my live my world

Hidup itu realita....

hidup itu bukan fiksi

hidup itu hanya sekali

hidup itu saling mewarnai

hidup itu penuh tantangan

jadi gunakan nya hidup mu sebelum punyamu tidak hidup lagi...

Jumat, 30 Agustus 2013

perlakuan PHT Hama trips


TUGAS ILMU HAMA TANAMAN
Nama         : Ryan Raynaldo S
Nim            : D1a009081
Prodi          : Hama Penyakit Tanaman (HPT)


Perlakuan PHT hama Trips (Trips pavispinnus Karny) pada tanaman cabai (Capsicum annuum L.)

                Cabai merah (Capsicum annum L.) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia. Cabai sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor dalam bentuk kering, saus, tepung dan lainnya.
            Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe. Menurut beberapa sumber, thrips yang menyerang cabe tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan pada tanaman cabe hanya salah satunya saja. Dengan panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga.


Bioekologi  hama Trips (Trips pavispinnus Karny)

Kingdom          : Animalia
Phylum            : Arthropoda
Kelas                : Insecta
Ordo                : Thysanoptera
Famili              : Thripidae
Genus             : Thrips
Spesies            : Thrips parvispinus Karny




Thrips mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
1. Serangga dewasa berukuran kecil, panjang 0,8 mm – 0,9 mm, berwaran kuning cokelat kehitam
2. Hama ini berkembang biak secara tak kawin (partenogenesis)
3. Telur berbentuk oval atau seperti ginjal, diletakkan di dalam jaringan daun.
4. Nimfa berwarna putih dan sangat aktif, terdiri atas dua instar, yang diikuti dengan periode per pupa                                                  
5. Pupa dibentuk di dalam tanah, kemudian menjadi serangga dewasa.
6. Daur hidup berkisar antara 7 – 12 hari di dataran rendah, dan berkembang pesat populasinya pada

Thrips betina meletakkan telurnya secara tunggal di dalam jaringan tanaman inang. Setelah kira-kira tiga hari, telur menetas (sering terjadi pada pagi hari) dan muncul larva instar satu, satu hingga dua hari kemudian menjadi larva instar dua. Stadia ini berakhir antara 2-4 hari dan pada akhirnya larva ini tidak makan sama sekali. Larva yang tidak makan ini akan meninggalkan tanaman dan pergi bersembunyi ke dalam tanah sehingga muncul instar tiga (stadia prepupa), 1-2 hari kemudian menjadi instar keempat. Setelah 2-3 hari, larva tersebut muncul sayap dan kembali makan.
Bila kondisi menguntungkan dan makanan cukup tersedia, makaseekor trips betina mampu meletakkan telur 200–250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan di jaringan muda daun, tangkai kuncup dan buah. Telur menetas menjadi nimfa 6–8 hari setelah diletakkan.
Nimfa trips instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih
dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan
jaringan tanaman. Sebelum memasuki instar kedua warnanya berubah menjadi kuning kehijauan, berukuran 0,4 mm, kemudian berganti kulit.
Pada instar kedua ini trips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung,
biasanya dekat urat daun atau pada lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Trips
instar ke dua berwarna lebih kuning, panjang 0,9 mm dan aktifitas makannya
meningkat. Pada akhir instar ini, trips biasanya mencari tempat di tanah atau timbunan
jerami di bawah kanopi tanaman.
Pada stadium prapupa maupun pupa, ukuran trips lebih pendek dan muncul 2
pasang sayap dan antena, aktifitas makan berangsur berhenti. Setelah dewasa, sayap
bertambah panjang sehingga melebihi panjang perutnya. Ukuran trips betina 0,7–0,9
mm, trips jantan lebih pendek.
Dalam satu tahun terdapat 8–12 generasi. Pada musim kemarau,
perkembangan telur sampai dewasa 13–15 hari dan stadium dewasa berkisar 15–20
hari. bila suhu di sekitar tanaman meningkat, maka trips akan berkembang sangat
cepat.


Gejala serangan yang ditimbulkan hama thrips adalah sebagai berikut :
1. Mula – mula daun muda yang terserang bernoda keperak – perakan secara tidak beraturan, akibat adanya luka bekas serangan thrips.
2. Selanjutnya, noda – noda keperak – perakan berubah menjadi cokelat tembaga.
3. Serangan berat dapat menyebabkan daun – daun mengeriting ke atas
.


Pengendalian hama thrips, dapat dilakukan dengan menempuh cara sebagai berikut :

1. Secara kultur teknis, dengan mempraktekkan penyiapan bedengan bermulsa plastik hitam
perak,mengatur pergiliran (rotasi) tanaman yang bukan sefamili, dan mengatur waktu tanam yang baik (tepat).
2. Secara biologi (hayati) dengan memanfaatkan musuh – musuh alami hama thrips, yaitu kumbang Coccinellidae, tungau predator, kepik Anthocoridae, dan kumbang Staphulinidae.
3. Memasang perangkap perekat hama, misalnya dengan menggunakan Insect Adhesif Trap Paper (IATP) berwarna kuning.
4. Monitoring hama untuk menentukan Ambang Kendali. Sebagai indikator, pada saat ditemukan 10 nimfa/ daun atau kerusakan tanaman mencapai 15 %, perlu dilakukan penyemprotan insektisida.
5. Secara kimawi, dengan penyemprotan insektisida secara selektif, misalnya Mesurol 50 WP, Pegasusu 500 SC atau Perfekthion 400 EC, pada waktu sore hari.






Rabu, 28 Agustus 2013

tugas hama


MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA TANAMAN PADI
SECARA TERPADU MENGGUNAKAN PRINSIP INTEGRATED PEST MANAGEMANT

Memperhatikan berbagai efek negatif yang terjadi dari penggunaan bahan kimia dalam dunia pertanian, maka mulai diadakan penelitian-penelitian yang mengarah kepada penggunaan jasad hidup untuk penanggulangan kerusakan di dunia pertanian, yang dikenal dengan pengendalian biologi ("Biologic control"). Dalam metode ini dimanfaatkan serangga dan mikro organisme yang bersifat predator, parasitoid, dan peracun. Usaha untuk meningkatkan hasil pertanian terus berlanjut dengan memperhatikan aspek keamanan lingkungan, kesehatan manusia dan ekonomi, maka muncul istilah "integrated pest control", integrated pest control dan selanjutnya menjadi integrated pest management (IPM), yang dikenal dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) juga ada istilah Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Sebelum kami menjelaskan cara pengendalian hama tanaman padi secara terpadu maka sebelum membahasnya lebih lanjut kami menyarankan untuk mempelajari " Managemen Pengendalian Hama dan Penyakit Secara Terpadu " dengan  memberikan informasi mengenai penyakit-penyakit pada tanaman padi.

PENYAKIT TANAMAN PADI
1. Penyakit tungro dan wereng hijau
Serangan penyakit tungro depot meluas dengan cepat terutama bile faktor pendukung seperti tingginya kepadatan populasi serangga penular, tersedianya sumber inokulan, adanya pertanaman varietas peka, pola tanam tidak serempak serta faktor lingkungan yang sesuai. Serangan menyebabkan terjadinya kerusakan tanaman yang tidak bisa sembuh kembali, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas maupun kuantitas produksi. 
Wereng hijau (Nephotettix virescens Distant) umumnya tidak langsung merusak tanaman padi, tetapi bertindak sebagai penular atau vektor penyakit virus tungro. Pengendalian dengan waktu tanam yang tepat dan rotasi varietas telah berhasil di Sulawesi Selatan namun pada kondisi pola tanam tidak teratur, pergiliran varietas kurang berhasil, seperti di Bali dan Jawa Tengah.
Pada saat ini petani dalam bercocok tanam agak berbeda dari beberapa tahun yang lalu, kalau dahulu para petani (petani budidaya padi ) melakukan penanaman serentak dalam satu daerah tertentu selah olah ada yang memberi komando, sedangkan pada akhir-akhir ini petani cenderung sendiri-sendiri dalam melakukan pola bercocok tanamnya. Menurut pengamatan penulis banyak ditemukan tanaman padi yang berbeda jauh waktu penanamannya terbukti pada satu hamparan persawahan yang bersebelahan, lahan satu sudah siap panen sedangkan lahan disebelahnya tanaman padinya dalam proses bunting susu. Hal ini menyebabkan populasi hama atau penyakit di daerah tersebut selalu ada / tidak terputus siklusnya. Jika hal ini terus berlanjut maka keberadaan hama atau penyakit dihamparan tersebut akan selalu ada.
Pengendaliannya adalah:
*  Usahakan menanam serentak minimal 20 hektar
* Gunakan varietas padi yang tahan terhadap virus tungro atau tahan serangga penular wereng wijau.Varietas tahan     wereng hijau menentukan >70% keberhasilan pengendalian tungro
* Buat persemaian setelah lahan dibersihkan dari gulma teki dan eceng gondok. Buang tanaman padi yang terinfeksi     agar tidak menjadi sumber virus.
*  Lakukan penanaman jajar legowo dua atau empat baris dapat menekan pemencaran wereng hijau.
*  Sawah jangan dikeringkan karena merangsang pemencaran wereng hijau sehingga memperluas penyebaran tungro.
* Kendalikan populasi Vektor virus dengan mengendalikan hama wereng hijau



2. Penyakit hawar daun bakteri (HDB)  pada Tanaman Padi

Penyakit hawar daun bakteri Xanthomonas oryzae pv oryzae dapat terjadi melalui air, angin, dan benih. Infenksi terjadi melalui luka/lubang alami (stomata).
Pengendaliannya adalah:
* Penanaman varietas tahan merupakan salah satu cara pengendalian, namunketahanan verietas saat ini di Indonesia     bersifat spesifik lokasi karena strain HDB berbeda-beda. Saat ini terdapat strain III, IV, V, VI, VII, dan VIII.
*  Amati kerusakan tanaman, bila keparahan penyakit melebihi 20% maka gunakan bakterisida Agrep.
*  Lakukan rotasi tanaman, dan pupuk N yang digunakan jangan berlebihan.

3. Penyakit Bercak Daun Coklat ( Helmintosporium oryzae )
Gejala kerusakan :
Merusak pelepah daun, malai dan buah yang baru tumbuh serta pada tahap pembibitan yang baru tumbuh. Gejala pada biji / bulir padi adalah bulir berbercak-bercak coklat tetapi masih berisi( bernas) apabila biji tersebut ditanam akan mengalami pembusukan pada saat biji mulai berkecambah dan apabila kecambah tumbuh akan segera mati. Gejala pada tanaman padi dewasa akan mengalami busuk kering.
Pengendaliannya :
1. Merendam benih dengan air hangat dengan penambahan Fungisida
2. Gunakan pemupukan yang berimbang akan mengurangi tingkat serangan
3. Gunakan Varietas padi yang tahan terhadap penyakit bercak daun coklat

Rabu, 24 Juli 2013

hama utama pada kedelai beserta klasifikasi,ekobiologi,pengendalian,seranggan


A. Ulat penggerek polong (Etiella zinckenella)
Penggerek polong dikenal dengan nama
 Etiella zinckenella, E. Hobsoni, Pod Borer,atau    
 Lima Bean Borer 
. Hama ini merupakan hama utama pada kedelai, selain kumbang kedelai. Tanaman inang hama ini antara lain
Crotalaria strata,
orok-orok, kacang tunggak, kacang krotok, dan
Teprosiacandida


Ciri-ciri Etiella spp. :
• Ngengat berwarna kuning keabu-abuan dengan ukuran 1.7-2.5 cm, dan aktif pada malam hari serta sangat menyukai cahaya.
• Ngengat betina dapat bertelur sekitar 73-204 butir yang diletakkan pada bagian bawah kelopak bunga dan polong kedelai, berbentuk lonjong dan berukuran 0,6 mm. Telur muda berwarna putih mengkilap dan setelah tua menjadi jingga berbintik-bintik merah. Telur menetas pada umur kurang lebih 3-4 hari.
• Ulat yang baru menetas berjalan-jalan di permukaan polong selama beberapa waktu, kemudian menggerek ke dalam polong dan memangsa biji kedelai. Ulat berwarna hijau kekuningan sampai merah muda dengan bagian punggung bergaris hitam.
• Lama stadium ulat kurang lebih 12-19 hari, dengan rata-rata 15 hari.
• Pupa atau kepompong berada dalam tanah dengan kedalaman 2-3 cm, berwarna cokelat, berbentuk bulat lonjong dengan ukuran 1.5 cm.
• Lama stadium kepompong kurang lebih 8-13 hari dengan rata-rata 11 hari.
Gejala serangan :
• Ulat menggerek polong kedelai kemudian hidup dan tinggal di dalam polong dan memakan biji kedelai yang masih utuh.
• Ulat menyebabkan kerusakan pada polong muda dan tua.
• Ulat juga sering merusak bunga, yang pada akhirnya menyebabkan kegagaln pembentukan buah atau polong.
• Kerusakan polong muda mengakibatkan biji kedelai tidak berkembang dan polong rontok.
• Pada tingkat serangan tinggi, kerugian hasil dapat mencapai lebih dari 90%.
                                                                             






Klasifikasi
Kingdom        : animalia
filum               : arthropoda
class                : insecta
ordo                : Lepidoptera
family             : pyralidae
subfamily       : phycitinae
genus              : etiella
species             : etiella zinckenella

Gejala

Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah terdapatnya bintik atau lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas jalan masuk larva kedalam biji. Seringkali, pada lubang bekas gereka terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa bijiterbalut benang pintal.Merusak biji dengan menggerek kulit polong muda dan kemudian masuk sertamenggerek biji, sebelum menggerek larva baru menetas menutupi dirinyadengan selubung putih hingga ada bintik coklat tua sebagai jalan masuk hamatersebut.


Morfologi dan biologi

Hama ini mempunyai panjang tubuhnya antara 8-11 mm, panjang sayapnyaantara 19-27 mm,sayapnya lebih panjang daripada abdomen. Perkembangantelurnya antara 4-21 hari , larvanya antara 19-40 hari,sedangkan perkembangan pupanya antara 12-18 hari, umur imago lebih kurang 20 hari, rata-rataimagonya bertelur antara 100-600 butir telur dan perkembangannya tergantung pada suhu lingkungan. Ngengat hama ini berwarna keabu-abuan pada bagian tepi sayap ada pembatas berwarna kuning muda, rentangan sayapnya antara 24-27 mm. Telur berwarna putih mengilap dan berubah menjadi kemerah-merahan larvanya berwarna putihkekuningan. Kepala lebih besar dari pada badan dan berwarna coklat sampaihitam.








Ekologi

Penyebaran hama ini dominan pada daerah tropis.Hama ini umumnya
menyerang pada bulan mei hingga juni tetapi umumnya pada pada pertengahan bulan juni. Selain pada kedelai, hama ini juga menyerang Crotalaria striata,kacang tunggak, kacang kratok (Phaseolus lunatus), Tephrosia candida, kacanghijau dan kacang tanah

Siklus hidup

Telur diletakkan berkelompok 4-15 butir di bagian bawah daun, kelopak bunga atau padapolong.Telur berbentuk lonjong,diameter0,6mm.pada saatdiletakkan telur berbah kemerahan dan berwarna warna putih mengkilap,kemudian berwarna jingga ketika akan menetas. Setelah 3-4 hari, telur menetasdan keluar ulat berwarna putih kekuningan, kemudian berubah menjadi hijaudengan garis merah memanjang . Ulat instar 1 dan 2 menggerek polong daun,menggerek biji dan hidup di dalam biji. Setelah instar 2, ulat hidup di luar biji.Dalam satu polong sering dijumpai lebih dari 1 ekor ulat. Ulat instar akhir mempunyai panjang 13-15 mm dengan lebar 2-3 mm. Kepompong berawarnacoklat dengan panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm, dibentuk dalam tanah denganterlebih dahulu membuat sel dari tanah. Setelah 9-15 hari, kepompong berubahmenjadi ngengat.

Pengendalian

Pengendalian hama penggerek polong sebaiknya dilakukan secara terpadu atau PHT yaitu suatu cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir yang apabila serangan hama penggerek polong telah melampaui batas ambang kendali yaitu bila telah ditemukan kerusakan polong sekitar 2,5% atau terdapat 2 ekor ulat per tanaman saat tanaman kedelai berumur lebih dari 45 hari.
1. Pengolahan tanah minimum 1 (satu) kali
2. Jarak tanam 30 cm x 20 cm3. Cara tanam yaitu tunggal 2-3 cm
4. Jumlah tanaman per rumpun adalah 2 benih per lobang
5. Pemupukan Urea 50 kg, TSP 100 kg dan KCL 100 kg/ha
6. Penyiangan dilakukan 2 kali yaitu 20 dan 40 hari setelah tanam
7. Pembumbunan dilakukan 1 kali yaitu 20 hari setelah tanam
8. Pengendalian hama dan penyakit yaitu:- Untuk perlakuan benih digunakan Furadan minimal 3 gram- Selama penanaman digunakan Decis 2,5 EC dalam takaran 0,5 cc /liter dan Metonyl 2 cc per liter pada umur 25 hari setelah tanam.
9. Musuh alami menggunakan Parasitoid telur, Trichogrammatoid       ea bactrae bactrae (Hymenoptera: Trichogrammatidae). Parasit 
oid larva,Baeognatha spp.dan Phanerotoma sp. (Hymenoptera: Braconidae
10. Semprot insektisida









KLASIFIKASI HAMA dan GEJALA SERANGANNYA

Pengelompokan Hama Pada Tanaman


HAMA PADA TANAMAN KELAPA SAWIT
1.      Hama Utama
Ø  Kumbang Tanduk (Oryctes rhinoceros)
Klasifikasi:
Kingdom   :Animalia
Filum         :Arthropoda
Kelas         :Insecta
Ordo          :Coleoptera
Famili        :Scarabaeidae
Genus        :Oryctes
Spesies      :Oryctes rhinoceros L.
Gejala serangan: Daun yang belum terbuka dirusak, sehingga pada saat daun membuka, terlihat bekas potongan yang simetris berbentuk segitiga atau seperti huruf V. Akibatnya mahkota daun tampak compang – camping, semrawut dan tidak teratur.Kumbang badak O. rhinoceros menyebabkan kerusakan dengan cara melubangi tanaman, begitu juga menurut Loring (2007) tanda serangan terlihat pada bekas lubang gerekan pada pangkal batang, selanjutnya mengakibatkan pelepah daun muda putus dan membusuk kering. Sedangkan Prawirosukarto dkk. (2003) mengatakan, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kelapa sawit menyebabkan masalah. Hama ini sekarang juga dijumpai pada areal tanaman yang menghasilkan. O. rhinoceros ini dapat merusak pertumbuhan tanaman dan dapat mengakibatkan tanaman mati.

2.      Hama Kadangkala
Ø  Ulat Api (S. asigna)
Klasifikasi:
Kingdom   : Animalia
Filum         : Arthropoda 
Kelas         : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Famili        : Limacodidae
Genus        : Setothosea
Spesies      : Setothosea asigna

Gejala serangan : Ulat muda (di bawah instar 3) biasanya bergerombol di sekitar tempat peletakkan telur dan mengikis daun mulai dari perukaan bawah daun kelapa sawit, serta meninggalkan epidermis daun bagian atas. Bekas serangan terlihat seperti jendela-jendela memanjang pada helaian daun. Mulai instar ketiga biasanya ulat memakan semua helaian daun dan meninggalkan lidinya saja Serangan ulat ini biasanya mulai dari pelepah daun yang terletak di strata tengah dari tajuk kelapa sawit ke arah pelepah daun yang lebih muda atau lebih atas. Tetapi pada serangan yang lebih berat daun yang tua sekalipun dimakan juga oleh S. asigna tersebut. Pada serangan yang berat, semua helaian daun dimakan oleh S. asigna dan hanya tinggal pelepah beserta lidinya saja. Gejala serangan ini sering disebut gejala melidi.

3.      Hama Potensial
Ø  Tikus (Rattus-rattus tiomanicus)
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum       : Chordata
Kelas        : Mamalia
Ordo        : Rodentia
Famili       : Muridae
Genus      : Dandicota rattus
Spesies     : Rattus-rattus tiomanicus

Gejala serangan: Batang kelapa sawit yang di potong uleh kretannya gigi seri tikus tampak tidak luruus, tetapi terlihat miring atau berbentuk sudut 45 derajat sementara itu disekitar batang yang terpotong tersebut berceceran sisa-sisa potongan oleh hewan ini. Hama ini menyerang tanaman kelapa sawit pada semua stadia pertumbuhan pada kelapa sawit.

4.      Hama Migran
Ø  Gajah (Elephas maximus)
Klasifikasi:
Kerajaan    : Animalia     
Filum         : Chordata
Subfilum   : Vertebrata
Kelas         : Mammalia
Ordo          : Proboscidea
Famili        : Elephantidae
Genus        : Lexodonta dan Elephas
Spesies      : Elephas maximus

Gejala serangan: Gajah merusak tanaman kelapa sawit dengan cara mencabut bonggol dan memakan umbut kelapa sawit. Gajah menjadi hama karena habitatnya sudah terdesak oleh perkebunan kelapa sawit sehingga gajah sering merusak tanaman kelapa sawit di daerah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Hama ini menyerang tanaman kelapa sawit pada usia tanaman kurang dari 5 tahun pada saat tanaman masih dapat terjangkau oleh hama ini , pada tanaman yang terserang terlihat adanya sisa-sisa dari makanan dari hama ini.hama ini menyerang tanaman pada daerah titik tumbuh yaitu dengan memakan langsung bagian tengah dari tanaman kelapa sawit sehingga lama ke lamaan tanaman akan mati karena tidak bisa malakukan pertumbuhan dengan baik. Pengendalian gajah termasuk sulit karena hewan ini termasuk yang dilindungi. Pengendalian yang sering dilakukan adalah dengan membangun parit isolasi sedalam 3 meter dengan lebar 2,5 meter yang mengelilingi kebun, dan membuat kawat beraliran listrik (electric fencing) dengan voltase rendah.








HAMA PADA TANAMAN PADI
1.      Hama Utama
Ø  Penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata)
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia    
Filum       : 
Arthropoda              
Subfilum  : 
Hexapoda 
Kelas        : 
Insecta        
Ordo        : 
Lepidoptera             
Famili       : 
Crambidae                
Subfamili : 
Schoenobiinae        
Genus      : 
Scirpophaga            
Spesies     : Scirpophaga innotata

Gejala serangan: Gejala yang ditemukan sebelum padi berbunga disebut sebagaisundep dan gejala serangan yang dilakukan setelah malai keluar dikenal sebagaibeluk.

Ø  Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
Klasifikasi:
Kingdom : Animalia    
Filum       : 
Arthropoda              
Subfilim   : 
Hexapoda 
Kelas        : 
Insecta        
Ordo        : 
Hemiptera 
Famili       : 
Delphacidae             
Genus      : 
Nilaparvata              
Spesies     : 
Nilaparvata lugens

Gejala serangan: Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro).
                                               
2.      Hama Kadangkala
Ø  Walang sangit (Leptocorisa acuta)
Klasifikasi:
Kingdom   : Animalia
Filum         : Arthropoda
Kelas         : Insecta
Ordo          : Hemiptera
famili         : Alydidae
Genus        : Leptocorisa
Spesies      : Leptocorisa acuta

Gejala serangan : Walang sangit (L. oratorius L) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna, sehingga menyebabkan tanaman kekurangan hara dan menguning (klorosis), dan perlahan-lahan melemah. Penyebaran hama ini cukup luas.

3.      Hama Potensial
Ø  Lembing Hijau (Nezara viridula)
Gejala serangan: Serangannya tidak sampai menghampa padi, tetapi menghasilakan padi berkualitas jelek (goresan-goresan membujur pada kulit gabah dan pecah apabila  dilakukan penggilinga/penumbukan)

4.      Hama Migran
Ø  Ganjur (Pachydiplosis oryzae)
Gejala serangan: Hama ini menempatkan telur-telurnya pada kelopak daun padi, larva bergeak menuju dan memasuki batang-batang padi, daun-daun membentuk kelongsong sehingga padi mati


HAMA PADA TANAMAN CABAI
1.      Hama Utama
Ø  Lalat buah (Dacus ferrugineus Coquillet atau Dacus Dorsalis Hend)
Gejala serangan: Lalat ini menusuk pangkal buah cabe yang terlihat ada bintik hitam kecil bekas tusukan lalat buah untuk memasukkan telur. Buah yang terserang akan menjadi bercak-bercak bulat, kemudian membusuk, dan berlobang. Setelah telur menetas jadi larva (belatung) dan hidup di dalam buah sampai buah rontok dan membusuk larva akan keluar ke tanah dan seminggu kemudian berubah menjadi lalat muda.

2.      Hama Kadangkala
Ø  Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala serangan: Salah satu gejala awal serangan ulat grayak  ialah daun – daun cabe yang meranggas dan berlubang-lubang.   Ulat grayak mulai memakan daun dari bagian tepi kemudian ke bagian atas maupun bawah daun.  Pada tingkat serangan yang parah daun hanya tertinggal epidermisnya saja.  Sehingga daun menjadi tidak berfungsi sebagai tempat fotosintesis, akibatnya produksi buah cabe terhambat dan menurun.

3.      Hama Potensial
Ø  Thrips/kemreki (Thrips parvispinus)
Gejala serangan: Hama ini berukuran sangat kecil dan lembut. Ketika muda berwarna kuning dan dewasa kecokelatan dengan kepala hitam. Didaun terdapat titik-titik putih keperakan bekas tusukan, kemudian berubah menjadi kecokelatan. Daun yang cairannya diisap menjadi keriput dan melengkung ke atas. Thrips sering bersarang di bunga, ia juga menjadi perantara penyebaran virus. sebaiknya dihindari penanaman cabai dalam skala luas dapa satu hamparan.
4.      Hama Migran
Ø  Kutu daun kapas (Aphis gossypi)
Gejala serangan: Daun yang terserang berubah keriput, pertumbuhan terhambat dan kalau dibiarkan tanaman bisa mati. Kutu dewasa membentuk sayap dan terbang ke tempat lain. Kutu ini menghasilkan embun jelaga berwarna hitam yang mengganggu proses fotosintesis, juga menjadi perantara penyebaran virus.


HAMA PADA TANAMAN SAWI
1.      Hama Utama
Ø  Ulat grayak (Spodoptera litura)
Klasifikasi:
Kingdom   : Animalia
Filum         : Arthropoda
Kelas         : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Famili        : Noctuidae
Genus        : Spodoptera
Spesies      : Spodoptera litura

Gejala serangan: Larva S.litura memakan daun dan pucuk tanaman sawi, sehingga daun transparan. Pada serangan berat tinggal tulang daun.

2.      Hama Kadangkala
Ø  Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.)
Klasifikasi:
Kingdom   : Animalia
Filum         :  Arthropoda
Kelas         :  Insecta
Ordo          :  Lepidoptera
Famili        :  Crambidae
Subfamili   :  Pyraustinae
Genus        : Crocidolomia
Spesies      : Crocidolomia binotalis

Gejala serangan: Kerusakan ringan berakibat menurunnya kualitas sawi, sedang kerusakan berat menyebabkan tanaman sawi tidak dapat dipanen.

3.      Hama Potensial
Ø  Ulat tritip (Plutella maculipennis)
Kingdom   : Animalia
Filum         : Arthropoda
Kelas         : Insecta
Ordo          : Lepidoptera
Famili        : Plutellidae
Genus        : Plutella
Spesies      : Plutella maculipennis

Gejala serangan: Daun yang terserang P. Maculipennis  berlubang-lubang kecil dan serangan berat tinggal tulang daun.

4.      Hama Migran
Ø  Phyllotreta vittata
Klasifikasi:
Kingdom   : Animalia
Filum         : Arthropoda
Kelas         : Insecta
Ordo          : Coleoptera
Famili        : Chrysomelidae
Genus        : Phyllotreta
Spesies      : Phyllotreta vittata

Gejala serangan: Daun kubis yang terserang P. vittata berlubang-lubang kecil. Larvanya seringkali merusak bagian dasar tanaman dekat dengan permukaan